Oleh Amin Wahyuni, M.Pd. Guru SMP Negeri 2 Secang
Berwudu dan mencuci tangan merupakan aktivitas keseharian para siswa di musala Annur SMP Negeri 2 Secang Kabupaten Magelang. Sekitar 750 siswa setiap hari melakukan cuci tangan dan berwudu sehingga banyak air mengalir begitu saja sampai pembuangan air. Apalagi rata-rata siswa sebagai pengguna air bersikap boros dan suka menghambur-hamburkan air tanpa memikirkan dampak lingkungan. Padahal, boros atau mubazir merupakan pelanggaran prinsip dari ajaran Islam, bahkan Islam menegaskan bahwa mubazir sangat dilarang sampai-sampai Allah mengingatkan perbuatan mubazir itu sebagai saudara syaitan (Q.S. Al-Isra':27).
Jika dilihat dari kualitas, air bekas atau limbah dari berwudu masih termasuk air yang baik. Dikatakan air berkualitas baik karena dalam proses berwudu tidak mensyaratkan pengguaan sabun atau sampo yang dapat mencemari air. Dengan demikian, air tersebut tidak membahayakan jika dimanfaatkan untuk kegiatan yang lain.
Melihat fenomena tersebut, SMP Negeri 2 Secang perlu memandang penting pengelolaan dan pemanfaatan air bekas wudu untuk budi daya ikan dan tanaman. Karena air bekas wudu tidak memerlukan pengolahan khusus, sistem resirkulasi air kolam ikan dapat terjaga selanjutnya air kolam ikan yang sudah mengandung kotoran ikan dapat disalurkan langsung ke dalam media akuaponik.
Beberapa sekolah banyak yang telah melaksanakan program tersebut dan berhasil dengan baik. Di Pesantren SGJB Malon, Gunungpati, Semarang, misalnya menggunakan beberapa tahapan yang dilalui untuk membantu terwujudnya program tersebut, yaitu (1) Pemantapan Program Kegiatan, (2) Diskusi dan Pelatihan Pemanfaatan Media; (3) Diskusi dan Pelatihan Pemanfaatan Media; (4) Penentuan Lokasi Media Budidaya Ikan Air Tawar; (5) Pembuatan/Pembangunan Media; (6) Pemanfaatan Media Budidaya Ikan Air Tawar dengan Sumber Air Sisa Wudu.
Model pemanfaatan air sisa wudu untuk budi daya ikan air tawar di lingkungan pondok pesantren juga dapat diterapkan pada lingkungan sekolah. Model pemanfaatan ini akan bermanfaat bagi lingkungan sekolah dan bisa menjadi contoh nyata keterlibatan sekolah dalam aktivitas konservasi lingkungan dengan melakukan penghematan air dan penggunaan kembali limbah air yang masih relatif bersih. Percobaan sebelumnya sudah juga dilakukan oleh MTs Negeri Yogyakarta I (Tribun, 2014).
Pada kegiatan tersebut, kolam limbah air wudu dapat menjadi kolam pendidikan. Selain sebagai media belajar tentang ekosistem, ikan yang dipelihara di kolam tersebut digunakan sebagai media pembelajaran kewirausahaan tentang budi daya ikan. Hasil panennya dijual pada warga sekolah atau warga sekitar. Di kolam pendidikan tersebut juga terdapat beberapa tanaman seperti sawi dan tomat yang ditanam secara akuaponik dengan diapungkan di atas kolam menggunakan sterofoam bekas. Keberadaan kolam pendidikan tersebut akan menjadi bukti nyata tentang pentingnya menghemat sumber daya alam yang kita miliki agar kelak masih tetap bisa kita wariskan kepada anak cucu.